Minggu, 20 Januari 2013

Januari, 20 Januari 2013

Berenang...
Pagi ini saya mulai dengan berenang. Usai jaga malam, saya langsung capcus balik ke rumah saudara njemput sepupu saya. Kami sudah berencana berenang hari ini. Sampai di kolam renang, eh, ternyata masih tutup. Akhirnya kami mampir dulu ke saudara kami yang lain. Hmmm. Sepupu saya itu, sebut saja W, ingin menjemput keponakan saya yang masih berusia 2 tahun berenang. Dalam hati saya,"uh, ngrepot2in aja. Gak bisa nikmatin renang deh."
Singkat cerita, sekitar setengah jam kami menunggu di depan kolam renang. Belum dibuka2. Dalam hati saya,"Gosong deh gw. Udah jam 9 lebih belum dibuka2 kolam renangnya."
Saat udah di dalam kolam renang, sepupu saya mengajak berenang si keponakan kecil. Si kecil ternyata takut, gak mau masuk air. Lama sekali kami membujuknya, namun sia2. Akhirnya saya minta ijin dulu renang di kolam renang dewasa. dapet 2 kali puteran, saya kembali nengok si kecil dan sepupu saya.
Liat mereka yang seperti 'mengukir di atas air' (dalam waktu yang saya kira cukup lama), akhirnya saya turun  tangan. Saya gendong si kecil yang sudah memakai ban kepala masuk ke dalam kolam. Pelan2 saya celupin dia. Nangis ya nangis deh. Rasa malu saya sepertinya sudah habis terkikis waktu. Hemh. Karena gak tega, tak lama kemudian, kami bertiga pindah ke kolam dewasa. Saya berdua dengan sepupu sya bergantian mengawasi si kecil yang duduk sambil ngedot susu di tepi kolam.
Si kecil opname...
Malam harinya saya mendapat kabar kalau si kecil masuk IGD. Pikir saya, paling demam muntah. Dengan tenang saya berangkat ke RS. Sesampainya di RS, si keponakan kecil udah pindah ke bangsal. Saya coba liat statusnya di meja perawat, diagnosisnya 'KDS'. hemh, kejang demam sederhana. Muka saya langsung 'agak' pucat, namun jantung saya masih berdegup pelan seperti sebelumnya.
Sesampai di ruangan, si kecil sedang tertidur pulas. Sebelum pagi berenang tadi, si kecil ternyata udah lari2 pagi bersama pamannya. Kemudian kemarin abis beraktifitas agak berat juga. hemh, semoga ini bukan alibi ibu si kecil agar tidak menimbulkan ketidakenakan pada diri saya.
Si kecil gak kebagian ruangan VIP, jadi dia terpaksa di ruangan kelas 3. hemhhh. Berada di ruang itu, saya berpikir, sepertinya saya sudah kehilangan empati. Melihat keluarga saya yang lain mengelus2 si kecil yang sedang tertidur pulas atau beberapa orang yang menampakkan kepanikannya. Namun saya? Saya tetap tenang, seperti tak merasakan apa2, dingin. Mungkin pikir mereka saya kejam atau apalah. Semoga ini hanya pikiran negatif saya saja.
Hilang empati...
Baru setahun menjalani profesi saya sebagai pelayan kesehatan, saya seperti kehilangan 'sesuatu' yang disebut 'empati'. Ya Allah, maafkan hamba. Selalu, perasaan dan sikap yang terlalu tenang pada keadaan yang orang lain sudah panik. Saya melihat diagnosisnya kejang demam sederhana. Oh, prognosis baik. Demam si kecil juga udah turun. Udah dapet maintanance antikonvulsan pula. So, whats matter? Mungkin memang saya tidak cocok jadi spesialis anak. Menenangkan dan menginformasikan keadaan pasien sampai mereka paham betul adalah sesuatu hal yang jauh lebih sulit ketimbang memberikan terapinya. Demam belum turun meski baru hari pertama demam juga pernah membuat saya dilabrak oleh ibu pasien yang notabene teman sejawat. Peristiwa ini terjadi saat saya pertama kali jaga di luar pulau Jawa. Sebagai teman seprofesi, seharusnya dia tau. Kepanikannya tak berdasar. Maintanace anticonvulsant dan antibiotik sudah diberikan. Bodohnya saya, mengapa dulu saya turuti dia membaca suhu termometer anaknya. So what? Pelecehan sesama saudara di hari pertama kerja saya di pulau berantah.
Dari RS dimana keponakan saya dirawat, saya langsung capcus ke RS saya untuk jaga malam. Di RS saya, motor karyawan RS dimasukkan ke dalam lorong RS. Eh, belum bener saya mengunci stang, seorang bapak2 menegur saya. Karena saya belum terlalu mudheng bahasa luar pulau jawa, saya minta dia mengulangi. Eh ternyata dia memarahi saya karena saya memarkir motor saya di dalam lorong RS, sedang motor dia di luar. So what? saya dari dulu parkir motor di dalem sini pak.
Hari berganti hari...
sebentar lagi, insya Allah usai kerja saya di Luar pulau ini. Ya Allah, ridhoi hamba. Beri semangat dan tekad yang kuat. SMANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT! I'll come home mommy!

Minggu, 16 Desember 2012

Kangen

Gw hampir lupa ekspresi wajah ibu ketika tertawa. Gw lupa ekspresi bapak saat puas njailin gw.
Saya kangen temen jalan saya yg paling setia....bapak.
Saya kangen masakan ibu yg sederhana tapi.....enak.

#np next plane home

Bahagia itu sederhana

Pas pengen makan duren, pas dapet duit. Gedhe lagi insentif bulan ini. BAHAGIA ITU SEDERHANA.

Memang matre itu perlu. Bener kata Rasulullah, catat semua transaksi hitam di atas putih. 'Jasa' sekalipun. Mending masuk ke kantong orang2 yang membutuhkan ketimbang masuk ke kantong orang2 yang tidak bertanggungjawab.
Happy Desember!^^/

Kamis, 29 November 2012

No expectation life

Its about learning to walk in :

no expectation...
targetless...
no ambition...

...LIFE

I'll just walk to wherever the world want me to go through.

Allah always loves me whatever and wherever I am


Sabtu, 10 November 2012

Thanks

Perjalanan usia mengubah beberapa pola pikir dan cara pandang saya. Dulu saya seorang idealis, perfeksionis. Mutiara berkilau itu mutiara yang memang harus memancarkan silau. Jika tidak memancarkan sinar, berarti itu bukan mutiara berkilau, tak memandang alasan mengapa bisa tidak berkilau.
Namun sekarang, saya bisa memandang mutiara redup bisa melebihi mutiara yang berkilau. Tak perlu memancarkan sinar. Meski terkadang masih sedikit terbersit pikiran seperti khalayak ramai, namun saya bersyukur saya bisa tetap memandang kilaunya mutiara redup. Dan saat inipun saya terus belajar dan mencari.
Upaya.
Yang kamu tetapkan itu sudah bagus. Jangan memandang ke bawah untuk urusan ini. Fokus. tak usah tergelincir hanya karena kerikil kecil. Apapun yang terjadi, singkat/panjang, jalani saja. Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk saya.
Ini. akan. untuk. tak. perlu. tau.

Saya ini merah.

Terima kasih. :D

Thanks Mom!

Ibu mengajariku kemandirian dan ketangguhan sebagai seorang wanita. Sempat terbayang saat ibu mengecat rumah dengan naik tangga saat sedang hamil tua adikku.
Ibu adalah orang pertama yang mengajariku mengaji dan solat. Ini adalah suatu karunia dari Allah untukku, karena tidak semua anak bisa mendapatkannya. Ia membekaliku prinsip-prinsip hidup yang harus dipegang kemanapun aku pergi. Meskipun sering merasa sebal akan kebanyakbicaraannya, namun semua itu untuk kebaikan saya. Tidak bosan-bosannya mengingatkan semua hal agar anaknya dapat selalu berada di garis yang lurus.
Siang ini, saya melihat seorang saudara yang dengan gampangnya meninggalkan solat tanpa suatu beban apapun. Padahal jika ia berada di rumah ibunya, ibunya akan selalu mengingatkannya sudah solat atau belum. Hal ini membuat saya berpikir...'kasian ibunya.' Orang tua tidak mengharap balas budi dari semua yang sudah mereka berikan kepada anaknya. Mereka hanya berharap doa dari anak soleh. Sebuah amal jariyah yang tidak akan putus saat mereka dipanggil kelak. Dan pada saat hari pembalasan, anak bisa menyeret orangtuanya ke 'tempat yang tidak diharapkan' atas jawaban mengapa ia tidak solat.
Kasian ibu kalo saya melalaikan solat. Sudah susah payah mendidik saya dari kecil, namun yang dididik tidak memegang teguh apa yang sudah dibekalkannya.

Terima kasih.... ibu.

Dirty Little Secret

Krn saat ini perut lg tidak bergejolak, belajar gak bisa, maka saya putuskan untuk ngeblog sajah.

Kangen masa2 koas.

My dirty little secret when I was koas...

Saya suka mencari lorong2  rumah sakit yang dikenal angker oleh banyak orang saat malam hari. Untuk apa? untuk singgah sejenak aka tidur :p
Lorong radiologi...
Kebetulan di ruang solat radiologi ada sofa panjang empuk. Enak buat tiduran. Saya suka mampir tidur disana sebentar untuk sekedar mengelap peluh. Pernah suatu ketika saya menjatuhkan tas vital sign saya (tensimeter) ke dalam toilet WC ruang radiologi tersebut. Mungkin karena kesadaran saya sudah menurun di jam-jam adzan subuh saat itu.