Kamis, 29 November 2012

No expectation life

Its about learning to walk in :

no expectation...
targetless...
no ambition...

...LIFE

I'll just walk to wherever the world want me to go through.

Allah always loves me whatever and wherever I am


Sabtu, 10 November 2012

Thanks

Perjalanan usia mengubah beberapa pola pikir dan cara pandang saya. Dulu saya seorang idealis, perfeksionis. Mutiara berkilau itu mutiara yang memang harus memancarkan silau. Jika tidak memancarkan sinar, berarti itu bukan mutiara berkilau, tak memandang alasan mengapa bisa tidak berkilau.
Namun sekarang, saya bisa memandang mutiara redup bisa melebihi mutiara yang berkilau. Tak perlu memancarkan sinar. Meski terkadang masih sedikit terbersit pikiran seperti khalayak ramai, namun saya bersyukur saya bisa tetap memandang kilaunya mutiara redup. Dan saat inipun saya terus belajar dan mencari.
Upaya.
Yang kamu tetapkan itu sudah bagus. Jangan memandang ke bawah untuk urusan ini. Fokus. tak usah tergelincir hanya karena kerikil kecil. Apapun yang terjadi, singkat/panjang, jalani saja. Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk saya.
Ini. akan. untuk. tak. perlu. tau.

Saya ini merah.

Terima kasih. :D

Thanks Mom!

Ibu mengajariku kemandirian dan ketangguhan sebagai seorang wanita. Sempat terbayang saat ibu mengecat rumah dengan naik tangga saat sedang hamil tua adikku.
Ibu adalah orang pertama yang mengajariku mengaji dan solat. Ini adalah suatu karunia dari Allah untukku, karena tidak semua anak bisa mendapatkannya. Ia membekaliku prinsip-prinsip hidup yang harus dipegang kemanapun aku pergi. Meskipun sering merasa sebal akan kebanyakbicaraannya, namun semua itu untuk kebaikan saya. Tidak bosan-bosannya mengingatkan semua hal agar anaknya dapat selalu berada di garis yang lurus.
Siang ini, saya melihat seorang saudara yang dengan gampangnya meninggalkan solat tanpa suatu beban apapun. Padahal jika ia berada di rumah ibunya, ibunya akan selalu mengingatkannya sudah solat atau belum. Hal ini membuat saya berpikir...'kasian ibunya.' Orang tua tidak mengharap balas budi dari semua yang sudah mereka berikan kepada anaknya. Mereka hanya berharap doa dari anak soleh. Sebuah amal jariyah yang tidak akan putus saat mereka dipanggil kelak. Dan pada saat hari pembalasan, anak bisa menyeret orangtuanya ke 'tempat yang tidak diharapkan' atas jawaban mengapa ia tidak solat.
Kasian ibu kalo saya melalaikan solat. Sudah susah payah mendidik saya dari kecil, namun yang dididik tidak memegang teguh apa yang sudah dibekalkannya.

Terima kasih.... ibu.

Dirty Little Secret

Krn saat ini perut lg tidak bergejolak, belajar gak bisa, maka saya putuskan untuk ngeblog sajah.

Kangen masa2 koas.

My dirty little secret when I was koas...

Saya suka mencari lorong2  rumah sakit yang dikenal angker oleh banyak orang saat malam hari. Untuk apa? untuk singgah sejenak aka tidur :p
Lorong radiologi...
Kebetulan di ruang solat radiologi ada sofa panjang empuk. Enak buat tiduran. Saya suka mampir tidur disana sebentar untuk sekedar mengelap peluh. Pernah suatu ketika saya menjatuhkan tas vital sign saya (tensimeter) ke dalam toilet WC ruang radiologi tersebut. Mungkin karena kesadaran saya sudah menurun di jam-jam adzan subuh saat itu.

Rabu, 08 Agustus 2012

Untuk ke-3 kalinya, saya tidak tembus PTT. Saya tidak menyebutnya dengan kata 'gagal', karena ini bukan suatu kegagalan. Ujian tertulis untuk tembus PTT pun tidak ada. Yah, mungkin ini bukan jalan terbaik untuk saya. Saat berbuka bersama di meja makan, justru ayah ibu berbicara panjang lebar memberikan semangat dan mengingatkan selalu bahwa segala kebaikan dari Allah ada dibalik semuanya.
Malam ini pun ibu mengakui kalau ia sebenarnya tidak ikhlas anak perempuannya pergi jauh2 dari rumah. Minggu kemarin pun saya mendaftar cpns kemenkes pusat. Yasudahlah, saya tak tahu faktor mana yang menyebabkan saya tak tembus PTT kali ke-3 ini.
Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya. Saat ini tinggal berpikir kemana saya harus melangkah. Menetap di naungan ayah bunda atau melanjutkan perantauan saya di pulau seberang. 
Hidup mudah, berpikir sederhana, jalan dan nikmati saja. Dasar saya seorang ambisius (dan saya menyadari kelemahan saya itu), semua itu bukan hal yang mudah semudah membalik telapak tangan, namun juga tidak sulit sesulit merangkul gunung. Akan saya upayakan semuanya. Menjadi lebih dewasa. 'dewasa'? hmm, kata yang saat ini tidak terlalu berlebihan saya rasa.
Selamat menempuh hidup masing2. Semoga sukses di jalan masing2 kawan! :)

Maha Pengasih Maha Penyayang

"Bismillahirrahmanirrahim" = "dengan menyebut nama Allah Yang Maha PENGASIH lagi Maha PENYAYANG"
Banyak kali dalam sehari kita umat muslim mengucapkannya. Dalam solat. Karena suara imam tarawih malam kemarin enak didenger, saya jadi bisa menikmati ayat demi ayat al Quran yang dibacakannya.

"Bismillahirrahmanirrahim" = "dengan menyebut nama Allah Yang Maha PENGASIH lagi Maha PENYAYANG"

Berkali-kali setiap hari Allah mengingatkan kita bahwa Ia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Namun banyak manusia bodoh tidak meresapi hal ini. Bismillahirrahmanirrahim. Selalu mengasihi, menyayangi, memberikan kenyamanan di setiap nafas yang kita hirup. Jika kita selalu ingat dan menyadari jika kita memiliki Allah yang 'sangat' bahkan MAHA menyayangi, maka untuk apa kita masih bersedih terhadap permasalahan dunia yang sedang dihadapi. Memang manusia hanyalah manusia biasa yang penuh dengan keluh kesah. Namun penyegaran ingatan setiap hari saat solat hendaknya mampu menjadi berkah tersendiri untuk orang muslim.

Jumat, 27 Juli 2012

PTT : Sebuah Kehormatan Bagi Seorang Dokter

Minggu ini adalah minggu pembukaan PTT ke-3 kalinya di tahun ini. Setelah gagal di PTT ke-1 dan ke-2, saya kembali lagi mendaftar.
Hmm..."PTT". Mendengar 1 kata ini, pikiran saya terpecah menjadi 2, pikiran negatif dan pikiran positif. Bagai simalakama jika saya sedang memikirkan 'PTT'. Jika diterima PTT, di satu sisi saya bahagia karena berhasil lolos, namun di satu sisi saya harus bersiap diri dengan keterpencilan sebuah peradaban.
Berikut beberapa hal yang sempat menggelantung dalam pikiran saya selepas sah menjadi seorang 'pelayan kesehatan' :
1. Jika saya PTT, saya akan mendapat surat masa bakti, dan dengan itu, saya bisa mendapat poin lebih jika mendaftar ppds.
2. Jika saya PTT, apa akan ada pasien yang datang berobat ke tempat praktik pribadi saya, sedangkan pemikiran orang-orang terpencil biasanya masih kuno.
3. Jika saya PTT, apakah saya masih bisa menabung guna uang saku sekolah nanti? Padahal biasanya gajinya nunggak2, dirapel beberapa bulan.
4. Jika saya PTT, apa saya bisa sambil bekerja di RS yang notabene bisa menjadi pengalaman kerja tambahan jika saya nanti mendaftar sekolah spesialis?

Mungkin beberapa hal masih bisa saya lakukan (seperti praktik pribadi, bekerja sambilan di RS) jika saya beruntung mendapatkan lokasi PTT yang mendukung. Namun, jika tidak? saya membayangkan hanya bisa berkutat dengan kegiatan rutin dalam keterpencilan itu.
Post gagal PTT untuk ke-2 kalinya mengharuskan saya intropeksi diri. Dan beberapa hari yang lalu saya tersadarkan oleh beberapa inspirasi dari kawannya kawan yang lolos PTT.

"Kalau mindset kamu seperti itu, kamu gak bakalan lolos PTT lagi. Pengabdian dulu. Gak boleh egois. Niat itu sangat vital sekali. Kalau banyak amal, hidup akan dimudahkan. Jangan hanya terus-terusan memburu dunia."
Beberapa patah kata di atas benar-benar merasuk ke dalam otak saya. Iya ya, selama ini saya diselubungi nafsu duniawi, egois. Menjadi seorang dokter adalah anugerah. Dan detik ini saya bisa berkata, dokter yang diberi kesempatan PTT adalah dokter yang diberi kehormatan sebagai seorang dokter untuk menjalankan tugas mulia sejatinya dokter. Tidak semua dokter diberi kehormatan untuk menjalankan PTT.
Tidak munafik, dulu saya sempat berpikir :
1. Enak ya para anak staf, bisa langsung sekolah spesialis tanpa harus bersusah payah PTT dulu (meski PTT tidak menjamin lolos ppds pula).
2. Enak ya jadi dokter yang menetap di Jawa yang dibuai materi dunia yang lebih banyak dan fasilitas lebih lengkap.
3. Gimana ya nanti kalo PTT, apa bisa belajar. Jangan2 nanti daftar sekolahnya jadi mundur lagi.

Namun saat ini pikiran saya bisa lepas jauh-jauh dari itu. Sungguh sebuah kehormatan bila kita diberi kesempatan Yang di Atas mengabdikan diri di jalanNya. PTT merupakan sebuah penghargaan yang tak ternilai harganya. Buang jauh2 pikiran sekolah dan uang. Manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. sekali lagi, orientasikan hidup untuk akhirat, bukan dunia. Jangan memandang langkah orang lain, karena kamu memiliki jalanmu sendiri - sendiri.

Sabtu, 28 Juli 2012
regards,